Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan

 

Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                         Medan,  Maret 2021

VALUASI TOTAL EKONOMI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN DELTA MAHAKAM KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR

 

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

 

Oleh:

Yohana Kembaren

191201130

HUT4A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa,  karena atas berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan ini dengan baik. Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul ”Valuasi Total Ekonomi Hutan Mangrove Di Kawasan Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab Ekonomi Sumber Daya Hutan yaitu Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si karena telah memberikan materi dengan baik dan benar.

Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi makalah ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

 

 

                                               Medan,   Maret 2021

                                                                                                                                                 Penulis

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai manfaat yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat hutan secara langsung (tangible) adalah menghasilkan kayu yang bernilai ekonomi tinggi, serta hasil hutan ikutan lainnya seperti rotan, getah, buah-buahan, madu dan lain-lain. Sedangkan manfaat hutan secara tidak langsung (intangible) yaitu untuk menjaga tata air, mencegah terjadinya erosi dan banjir, mencegah terjadinya pemanasan global, sumber plasma nutfah, memberikan manfaat terhadap kesehatan, memberikan rasa keindahan, sebagai tempat rekreasi atau tempat wisata dan lain-lain (Nuryanti, 2017).

Nilai ekonomi sumberdaya hutan baru disadari ketika semakin langka keberadaannya dan kesejahteraan manusia menjadi terganggu. Konsumsi beberapa manfaat sumberdaya hutan seperti hidrologis, biologis dan estetika terjadi tidak melalui mekanisme pasar. Selain dari pada itu manfaat hutan ada juga yang dinikmati sendiri oleh masyarakat secara tradisional, tidak dijual. Pemanfaatan tersebut secara ekonomi merupakan pemenuhan sebagian kebutuhan hidup, sehingga dapat dikatakan bahwa produk barang dan jasa hutan dimaksud dinikmati tetapi tidak dipasarkan (non marketable). Pemanfaatan yang masih terbatas dan tidak dijualbelikan di pasar menyebabkan penilaian sebagian barang dan jasa hasil sumberdaya hutan tidak dapat dilakukan secara memuaskan dengan pendekatan pasar (Munandar,2016).

Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang mempunyai peranan penting ditinjau dari sudut sosial, ekonomi, dan ekologis. Fungsi utama sebagai penyeimbang ekosistem dan penyedia berbagai kebutuhan hidup bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Sumberdaya hutan mangrove, selain berperan penting dalam kehidupan ekosistem di dalamnya juga memiliki fungsi sebagai: (1) fungsi fisik untuk menjaga garis pantai agar tetap stabil, mempercepat perluasan lahan, melindungi pantai dan tebing sungai, serta mengolah limbah; (2) fungsi biologis atau ekologis yaitu tempat bersarangnya burungburung besar, habitat alami bagi banyak jenis biota, nursery, feeding dan spawning ground serta shelter area bagi biota perairan; dan (3) fungsi ekonomi meliputi wilayah tambak, tempat pembuatan garam, kayu dan balok, serta rekreasi (Suzana dkk., 2011).

Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Hutan mangrove juga memiliki peranan yaitu hutan mangrove sebagai habitat satwa baik bagi satwa daratan seperti burung, amphibi, reptilian, mamalia dan beberapa jenis serangga. Pentingnya peran hutan mangrove terhadap aspek kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sehingga perlu dilakukan perhitungan nilai ekonomi total (total economis value) agar dapat diketahui manfaat dan kerugian secara keseluruhan khususnya di kawasan Delta Mahakam dalam penelitian valuasi total ekonomi lahan hutan mangrove kawasan Delta Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara (Wahyuni dkk., 2014).

 

1.1  Rumusan Masalah

 

1.      Bagaimana kondisi hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam?

2.      Apa saja nilai ekonomi total hutan mangrove?

3.      Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap manfaat ekonomi yang diperoleh dari hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara?

 

1.2  Tujuan Masalah

 

1.      Untuk mengetahui kondisi hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam.

2.      Untuk mengetahui nilai ekonomi total hutan mangrove

3.      Untuk mengetahui  faktor-faktor yang berpengaruh terhadap manfaat ekonomi yang diperoleh dari hutan mangrove di kawasan Delta  Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara.


              BAB II

ISI

2.1  Kondisi Hutan Mangrove di Kawasan Delta Mahakam

Kawasan Delta Mahakam sebelumnya dinominasi oleh 10 jenis mangrove hingga kini hanya tersisa empat jenis mangrove yang dominan pada kawasan tersebut yaitu jenis bakau, api-api, pedada, dan nipah. Pengelolaan hutan mangrove harus sangat bijaksana karena diperlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan kembali. Permasalahan yang terjadi dari keberadaan hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur yaitu, luasan hutan mangrove yang semakin berkurang setiap tahunnya, kerusakan hutan mangrove yang disebabkan oleh aktifitas masyarakat yang bertempat tinggal di sekitarnya yang mengeksploitasi hutan mangrove secara berlebihan dan akhirnya terjadi degradasi lingkungan dan terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi tambak dan pemukiman. Dari permasalahan tersebut diharapkan pelestarian hutan mangrove harus dipertahankan karena nilai ekonomi hutan mangrove bernilai tinggi. Akibat kerusakan dan berkurangnya luasan hutan mangrove sehingga mengakibatkan menurunnya fungsi hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam.

Penurunnya fungsi hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam meliputi, Pertama, Fungsi sebagai pelindung atau penahan dari abrasi, sehingga masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan mangrove harus meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman abrasi yang dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran rumah yang ditempatinya. Kedua, Fungsi mangrove sebagai lapangan pekerjaan mengalami penurunan yang berdampak terhadap berkurangnya jumlah hasil tangkapan para nelayan, serta menurunkan jumlah produksi ikan yang dihasilkan oleh para petambak. Dan Ketiga, Fungsi mangrove yang sebagai tempat tinggal untuk hewan endemik bekantan mengakibatkan hewan tersebut terancam kepunahan.

 

2.2  Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove

Hutan mangrove kawasan Delta Mahakam memiliki potensi ekonomi sumberdaya alam. Nilai ekonomi total sumberdaya alam merupakan penjumlahan dari nilai guna (use value) dan nilai non guna (non-use value). Nilai guna terdiri dari nilai guna langsung (direct use value) yang dihitung adalah nilai kayu, buah, atap nipah, ikan, udang dan kepiting, nilai guna tak langsung (indirect use value) yang dihitung adalah nilai penahan abrasi, spawning, nursery dan feeding ground dan nilai pilihan (option value) yang dihitung adalah nilai sewa rumah, sewa tambak dan nilai rekreasi. Sedangkan nilai non guna terdiri dari nilai keberadaan (existence value), dan nilai warisan (bequest value).

Nilai ekonomi total (total economic value) hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam pada tahun 2012 sebesar Rp503.071.398.869,2 terdiri dari nilai guna langsung (direct use value) sebesar Rp407.7746.300.000, nilai guna tidak langsung (indirect use value) sebesar Rp37.133.936.369,2, nilai pilihan (option value) sebesar Rp35.571.600.000, nilai keberadaan (existence value) sebesar Rp13.305.625.000 dan nilai warisan (bequest value) sebesar Rp9.313.937.500. Nilai ekonomi total yang diperoleh ternyata tergolong sangat besar dibandingkan dengan hutan mangrove Di Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta yaitu sebesar Rp520.216.354,51.

 

2.3  Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Manfaat Ekonomi Yang Diperoleh Dari Hutan Mangrove Di Kawasan Delta  Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara.

·    Nilai ekonomi rekreasi

Faktor yang berpengaruh terhadap nilai rekreasi yaitu biaya perjalanan, umur (19-65 tahun), pekerjaan mahasiswa, jumlah tanggungan. Variabel biaya perjalanan bertanda negatif, artinya bahwa semakin tinggi biaya perjalanan maka jumlah kunjungan wisatawan akan semakin menurun dan sebaliknya pada variabel umur bertanda negatif, hal ini menunjukkan bahwa usia (26-35 tahun) yang lebih muda mempunyai rasa peduli terhadap keberadaan rekreasi daripada usia yang lebih tua. Variabel pekerjaan mahasiswa bertanda negatif, artinya bahwa masyarakat yang pekerjaannya mahasiswa maka terhadap jumlah kunjungan rekreasi semakin sedikit, hal ini disebabkan mereka hanya beberapa kali saja mengunjungi kawasan Delta Mahakam. Variabel jumlah tanggungan bertanda negatif, artinya bahwa semakin banyak jumlah tanggungan maka semakin sedikit jumlah kunjungannya.

·    Nilai ekonomi keberadaan hutan mangrove

            Faktor yang berpengaruh terhadap nilai keberadaan hutan mangrove yaitu pekerjaan mahasiswa, pekerjaan swasta, dan pendapatan. Pada variable pekerjaan (mahasiswa dan swasta) bertanda positif, hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih peduli dan mengerti terhadap keberadaan hutan mangrove yang sangat penting bagi kehidupan daripada pekerjaan yang lainnya. variabel pendapatan bertanda positif artinya besarnya pendapatan seseorang maka mereka akan memberikan nilai WTP yang tinggi.

·    Nilai ekonomi bekantan

       Faktor yang berpengaruh terhadap nilai ekonomi bekantan yaitu pendapatan, asal dalam daerah dan luar daerah. Hasil positif pada variable pendapatan menunjukkan bahwa besarnya pendapatan seseorang maka mereka akan memberikan nilai WTP yang tinggi. Variabel asal dalam daerah dan luar daerah bertanda negative menunjukkan bahwa kurang kepedulian masyarakat tersebut terhadap kelestarian bekantan.

 


 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

1.      Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang mempunyai peranan penting ditinjau dari sudut sosial, ekonomi, dan ekologis.

2.      Kerusakan dan alih fungsi lahan hutan mangrove menjadi tambak dan wilayah pemukiman mengakibatkan berkurangnya luasan hutan mangrove.

3.      Berkurangnya luasan hutan mangrove mengakibatkan penurunan fungsinya sehingga mengancam kelangsungan kehidupan masyarakat sekitar yang hidup di kawasan hutan tersebut baik dari ancaman bahaya abrasi, berkurangnya jumlah pendapatan karena penurunan jumlah hasil tangkapan dan jumlah produksi ikan tambak, serta ancaman kepunahan terhadap hewan endemik Bekantan.

4.      Nilai ekonomi total yang dihasilkan hutan mangrove di Kawasan Delta Mahakam tahun 2012 yaitu sebesar Rp503.071.398.869,2 yang merupakan penjumlahan dari nilai guna (use value) dan nilai non guna (non-use value).

5.      Faktor-faktor yang memengaruhi manfaat ekonomi hutan mangrove agar tetap lestari pada nilai rekreasi yaitu biaya perjalanan, umur, pekerjaan mahasiswa, dan jumlah tanggungan sedangkan faktor yang memengaruhi keberadaan hutan mangrove yaitu pekerjaan (swasta dan mahasiswa) dan pendapatan, sementara faktor yang berpengaruh terhadap kelestarian bekantan yaitu pendapatan, asal dalam daerah dan luar daerah.

Saran

Sebaiknya ditetapkan peraturan yang ketat untuk menjaga kelestarian hutan mangrove dan peraturan ini dilaksanakan oleh Pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. Selain itu, diperlukan kajian lebih lanjut untuk menyusun kebijakan pengaturan dan pengawasan hutan mangrove agar tetap lestari.

 


DAFTAR PUSTAKA

Nuryanti DM. 2017. Analisis Usaha Pemanfaatan Limbah Kulit Kayu Gergajian di UD. Sumarni Kecamatan Sukamaju Kabupaten Luwu Utara. Jurnal Tobaro, 1(1):27-37.

Munandar. 2016. Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Hasil Hutan Yang Tidak Dapat Dipasarkan Pada Kawasan Hutan Lindung Taman Hutan Raya Sultan Adam Kalimantan Selatan. Jurnal Hutan Tropis, 4(2):109-119.

Suzana BOL, Timban J, Kaunang R, Ahmad F. 2011. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Hutan Mangrove di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Agri Sosioekonomi, 7(2):29-38.

Wahyuni Y, Putri EIK, Sahat S. 2014. Valuasi Total Ekonomi Hutan Mangrove Di Kawasan Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 3(1):1-12.

Komentar

  1. Tulisannya sangat bagus dan menambah wawasan pembaca

    BalasHapus
  2. Mantap👍 sangat bermanfaat👍

    BalasHapus
  3. Terimakasih informasinya sangat berguna

    BalasHapus
  4. Bagus banget, mantap 👍🏻

    BalasHapus
  5. Pembahasannya sangat menarik dan sangat menambah wawasan tentang hutan mangrove

    BalasHapus

Posting Komentar